Posted by : Unknown Sabtu, 06 April 2013




“Karena keinginan Prabu Klana Sewandana yang ingin memiliki generasi penerus, ia akhirnya memutuskan untuk melanggar titah sang guru K.S Lawu berupa larangan bagi dirinya untuk menyentuh seorang wanita. Berangkatlah iring-iringan temanten yang di pimpin oleh barisan warok lengkap dengan sebuah tari kreasi kebudayaan yang belum pernah ada di jagad raya ini. Tarian dadak merak dan singo barong serta 144 prajurit jathil diiringi suara gong beri , kenong dan terompet. Seketika sang guru marah karena keserakahan Klono Swandana yang akhirnya menuruti hawa nafsu duniawi. Akhirnya demi kelangsungan hidup Kerajaan Bantarangin, klonosewandana mengurungkan niatnya untuk mempersunting Dewi Songgolangit.”
Ma – him holic, Bicara tentang Reog Berarti membicarakan tentang kebudayaan Ponorogo. Bagaimana proses sebuah komunitas manusia di Ponorogo jaman animisme dinamisme mencari tentang kebenaran tuhan. Dalam mitos reyog banyak hal-hal yang dihubungkan dengan keseimabngan hidup dunia dan akhirat atau lebih ke ha-hal yang religius ( sang hyang Agung ). Hal ini dapat digambarkan dalam burung merak yang bertengger di atas kepala singa. Burung merak diyakini sebagai peliharan para dewa simbol sebagai tanda yang menggambarkan Yang Maha Pencipta. Proses ritual keagamaannya seperti yang kita saksikan sebagaimana reyog saat ini.
            Situs Kunthi pada awal ke-7 (terletak di Pager Bungkal ) yang berisi tentang ritual keagamaan dengan simbol reyog hingga kini masih dipertanyakan kebenarannya. Apakah abad ke-7 adalah masa hancurnya kepercayaan animisme atau justru masa kejayaan kepercayaan aliran animisme dinamisme masyarakat Ponorogo. Dalam hal ini, dapat kita petik bahwa kebudayaan reyog sudah ada sebelum abad ke-7.
            Namun sebuah mitos tentunya akan menjadi kepercayaan. Relatif, ya.... Ma-Him holic. Tergantung masing-masing individu yang menerimanya. REYOG berasal dari kata SAHIYEK, dikutip dari perkataan guru lawu saat menerima pilihan Prabu Klana Swandana yang mengurungkan niatnya untuk menikah. “ SIRA KABEH SARUJUKTO ( SAHIYEKTO ) LAN SAHIYEK SEKO PROYO “.
            Percaya atau tidak, inilah tempat-tempat yang menjadi saksi bisu REYOG PONOROGO. Antara lain :
“ WENGKER “. Wana Angker, yang berarti hutan angker. Dahulu disebut Kota Lama yang sekakarang lebih dikenal dengan nama Pasar Pon.
 “KERAJAAN BANTAR ANGIN” Bantar adalah tempat yang luas dan lapang dengan padang ilalang di sekitarnya. Yang berarti tempat lapang yang

berangin. Bantar angin terletak di daerah Seboto desa Sumoroto. Di tempat ini masih banyak diketemukan batu bata merah yang ukurannya besar-besar. Konon dahulu tempat inilah yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Bantarangin.
“ TAJUG”. Berasal dari kata Tag Jujug yang berarti muncul secara tiba-tiba. Daerah Tajug dipercaya sebagai tempat dimana sang guru Klono swandana, KS. Lawu memberi titah larangan untuk Klono Swandana agar segera membatalkan pernikahannya dengan Dewi Songgolangit. Saat itu sang guru muncul secara tiba-tiba saat iring-iringan temanten melakukan perjalanan menuju Kediri.

Mungkin itu hanya secuil misteri Reyog yang ada di Ponorogo. Meski banyak keyakinan yang berbeda, tetapi kita harus ingat satu hal. Reyog adalah kebudayaan , kesenian dan jiwa Ponorogo. Jangan biarkan Negara manapun, siapapun dan apapun merebut, menodai, Reyog kita. Mari bersama-sama melestarikan Reyog Ponorogo.

ilham ahmad






Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Blogger templates

Labels

TOTAL PENAYANGAN HALAMAN

Labels

Categories

reog /gitu

Blogger news

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogroll

Pengikut

- Copyright © ILham_AhmaD -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -